Jumat, 22 Maret 2013

Laporan Praktikum DPT Edafik


LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN
PENGENALAN PENGENDALIAN MELALUI PENGELOLAAN FAKTOR EDAFIK

Oleh:
CITRA WULAN SUCI
125040207111012
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2012


BAB I PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang
Tanah yang baik adalah tanah yang memiliki drainase baik, dapat menyerap hujan, mampu menyimpan air selama musim kering, mempunyai bongkahan tanpa lapisan cadas, tahan terhadap erosi, dapat menunjang kehidupan jasad penghuni tanah, tidak membutuhkan banyak pupuk untuk berproduksi tinggi, subur dan dapat memproduksi hasil tanaman yang tinggi dan sehat.
Dan salah satu upaya agar tanah dapat memenuhi kriteria tersebut dapat dilakukan dengan mengelola lahan secara praktis yaitu dengan mengoptimalkan proses seperti yang dijumpai pada tanah alami. Kriteria tersebut menggambarkan bahwa tanah harus berfungsi secara efektif dan berlanjut untuk berproduksi jangka panjang atau berkelanjutan.
Tanah dengan kandungan bahan organik tinggi akan membentuk sturktur komunitas yang sangat kompleks sehingga keragaman biota tanah akan tinggi. Semakin tinggi keragaman biota dalam tanah akan menyebabkan keseimbangan ekosistem baik di atas tanah maupun di dalam tanah. Keseimbangan ekosistem ini akan menghindari kemungkinan outbreaknya suatu hama maupun patogen tanaman.

1.2     Tujuan
  • Untuk mengetahui ciri indikator tanah yang sehat meliputi faktor fisika, kimia dan biologi
  • Untuk mengetahui bagaimana pengendalian OPT melalui faktor edafik
  • Mengetahui keragaman serangga tanah pada tanah yang mendapat input bahan organik tinggi dan tanah konvensional yang sering mendapat input bahan kimia sintetik ( pestisida dan pupuk kimiawi sintetik)








BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ciri Indikator Tanah yang Sehat meliputi Fisik, Biologi dan Kimia
  • Berdasarkan Sifat Fisika Tanah
Dalam menilai kesuburan suatu tanah maka sifat fisika tanah mempunyai peranan yang penting disamping sifat kimia. Sifat-sifat fisika itu yaitu tekstur tanah, struktur tanah, konsistensi tanah, warna tanah, temperatur tanah, tata air dan udara tanah. Sifat-sifat fisika ini bisa berubah dengan adanya pengolahan tanah. Dengan pengolahan tanah ini strukturnya menjadi baik sehingga akan membantu berfungsinya faktor pertumbuhan tanaman secara optimal
( Sarief, 1979 )
Struktur tanah merupakan susunan  ikatan partikel  tanah  satu  sama  lain. Ikatan  tanah  berbentuk  sebagai  agregat  tanah.  Apabila  syarat  agregat  tanah terpenuhi maka dengan sendirinya tanpa sebab dari luar  disebut  ped,  sedangkan ikatan  yang  merupakan  gumpalan  tanah  yang  sudah   terbentuk  akibat penggarapan  tanah  disebut  clod.
Tanah mempunyai hubungan yang sangat erat dengan tekstur tanah, tanah    pasir biasanya tak lekat, tak liat serta tak lepas. Akan tetapi tanah lempung berat  berkonsistensi sangat lekat, sangat liat, sangat teguh dan keras. Analisis konsistensi dapat dilakukan dengan meletakkan tanah diatas ibu jari dan telunjuk  dalam genggaman tangan tergantung dari kelengasan tanah. Khusus tanah yang  dalam keadaan basah ini dapat diamati dengan kelekatan dan kekenyalan berbeda dengan tanah kering
( Darmawijaya, 1990 )
  • Berdasarkan sifat Biologi
Tanah dihuni oleh bermacam-macam mikroorganisme. Jumlah tiap grup mikroorganisme sangat bervariasi, ada yang terdiri dari beberapa individu, akan tetapi ada pula yang jumlahnya mencapai jutaan per gram tanah. Mikroorganisme tanah itu sendirilah yang bertanggung jawab atas pelapukan bahan organik dan pendauran unsur hara. Dengan demikian mereka mempunyai pengaruh terhadap sifat fisik dan kimia tanah
Jumlah total mikroorganisme yang terdapat didalam tanah digunakan sebagai indeks kesuburan tanah (fertility indeks), tanpa mempertimbangkan hal-hal lain. Tanah yang subur mengandung sejumlah mikroorganisme, populasi yang tinggi ini menggambarkan adanya suplai makanan atau energi yang cukup ditambah lagi dengan temperatur yang sesuai, ketersediaan air yang cukup, kondisi ekologi lain yang mendukung perkembangan mikroorganisme pada tanah tersebut.
Jumlah mikroorganisme sangat berguna dalam menentukan tempat organisme dalam hubungannya dengan sistem perakaran, sisa bahan organik dan kedalaman profil tanah. Data ini juga berguna dalam membandingkan keragaman iklim dan pengelolaan tanah terhadap aktifitas organisme didalam tanah .
(Anas,  1989)
Jumlah Fungi Tanah. Fungi berperan dalam perubahan susunan tanah. Fungi tidak berklorofil sehingga mereka menggantungkan kebutuhan akan energi dan karbon dari bahan organik. Fungi dibedakan dalam tiga golongan yaitu ragi, kapang, dan jamur. Kapang dan jamur mempunyai arti penting bagi pertanian. Bila tidak karena fungi ini maka dekomposisi bahan organik dalam suasana masam tidak akan terjadi
Jumlah Pelarut Pospat, Bakteri pelarut P pada umumnya dalam tanah ditemukan di sekitar perakaran yang jumlahnya berkisar 103 – 106 sel/g tanah. Bakteri ini dapat menghasilkan enzim Phosphatase maupun asam-asam organik yang dapa melarutkan fosfat tanah maupun sumber fosfat yang diberikan (Santosa et.al.1999 dalam Mardiana 2006). Fungsi bakteri tanah yaitu turut serta dalam semua perubahan bahan organik, memegang monopoli dalam reaksi enzimatik yaitu nitrifikasi dan pelarut fosfat. Jumlah bakteri dalam tanah bervariasi karena perkembangan mereka sangat bergantung dari keadaan tanah. Pada umumnya jumlah terbanyak dijumpai di lapisan atas. Jumlah yang biasa dijumpai dalam tanah berkisar antara 3 – 4 milyar tiap gram tanah kering dan berubah dengan musim
(Soepardi, 1983)
Total Respirasi mikroorganisme tanah mencerminkan tingkat aktivitas mikroorganisme tanah. Pengukuran respirasi (mikroorganisme) tanah merupakan cara yang pertama kali digunakan untuk menentukan tingkat aktifitas mikroorganisme tanah. Pengukuran respirasi telah mempunyai korelasi yang baik dengan parameter lain yang berkaitan dengan aktivitas mikroorganisme tanah seperti bahan organik tanah, transformasi N, hasil antara, pH dan rata-rata jumlah mikroorganisrne
(Anas 1989)
  • Berdasarkan sifat Kimia
Sejumlah proses tanah dipengaruhi oleh reaksi tanah laju dekomposisi mineral tanah dan bahan organik dipengaruhi oleh reaksi tanah. Pembentukan tanaman juga dipengaruhi oleh reaksi asam basa dalam tanah, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh tidak langsung terhadap tanaman adalah pengaruh terhadap kelarutan dan ketersediaan hara tanaman. Pengaruh secara langsung ion H+ dilaporkan mempunyai pengaruh beracun terhadap tanaman jika terdapat dalam konsentrasi yang tinggi. Pengujian PH tanah dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu dengan menggunakan kertas lakmus, dengan menggunakan kertas indikator universal dan dengan alat PH dilaboratorium dapat menggunakan PH meter Beckman H5.
 ( Kuswandi, 1993 ).
Ion H+ dalam tanah dapat berada dalam keadaan terjerap. Ion H+ yang terjerap menentukan kemasaman aktif atau aktual kemasaman potensial dan aktual secara bersama menentukan kemasaman total. pH yang diukur pada suspensi tanah dalam larutan garam netral (misal KCl) menunjukan kemasaman total oleh karena K+ dapat melepaskan H+ yang terjerap dengan mekanisme pertukaran . Binatang biasanya dianggap sebagai penyumbang sekunder setelah tumbuhan. Mereka akan menggunakan bahan ini atau bahan organik sebagai sumber energi. Bentuk kehidupan tertentu terutama cacing tanah, sentripoda atau semut memainkan peranan penting dalam pemindahan sisa tanaman dari permukaan ke dalam tanah
( Soepardi, 1983 ).
Bahan kapur pertanian ada tiga macam, yaitu CaCO3 atau CaMg(CO3)2, CaO atau MgO dan Ca(OH)2. Kapur yang disarankan adalah CaCO3 atau CaMg(CO3)2 yang digiling dengan kehalusan 100 % melewati saringan 20 mesh dan 50 % melewati saringan80 – 100 mesh. Pemberian kapur dapat menaikkan kadar Ca dan beberapa hara lainnya, serta menurunkan Al dan kejenuhan Al, juga memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah. Pemberian kapur yang menyebabkan sifat dan ciri tanah membaik, meningkatkan produksi tanaman ( padi, jagung, kedelai )
( Bailey, 1986 )
Penentuan PH tanah dapat ditentukan secara kalorimetrik dan elektrometrik baik dilaboratorium ataupun dilapangan. Elektrik reaksi tanah ditentukan antara lain dengan PH meter Backman, sedangkan kalorimetrik dapat ditentukan dengan suatu alat atau menggunakan kertas PH, pasta PH dan larutan universal. Penentuan car terakhir umumnya lebih murah tetapi peka terhadap pengaruh dari luar. Pada prinsipnya dikerjakan dengan membandingkan warna larutan tanah dengan warna larutan standart dari kertas, pasta dan larutan indikator universal
 ( Darmawijaya, 1990 )
Perilaku kimia tanah dapat ditafsirkan sebagai keseluruhan reaksi fotokimia dan kimia yang berlangsung  antar penyusun tanah dan bahan yang ditambahkan kepada tanah insitu. Faktor kelajuan semua reaksi kimia  yang berlangsung dalam tanah berentangan sangat lebar, antara yang sangat singkat berhitungan menit ( reaksi serapan tertentu ) dan yang luar biasa berhitung abad ( reaksi yang berkaitan dengan pembentukan tanah ). Reaksi-reaksi tanah diimbas oleh tindakan faktor lingkungan tertentu
                                           ( Notohadiprawiro,1998 )
2.2 Pengendalian OPT melalui Faktor Edafik
Pengendalian OPT melalui faktor edafik contonya adalah pengolahan tanah dengan bahan organik. Pengolahan tanah ini ditujukan pada OPT atau hama yang dalam siklus hidup mempunyai fase di dalam tanah. Dengan pengolahan tanah sangat mempengaruhi populasi organisme yang ada di dalam tanah, dan juga dengan pengolahan tanah yang baik akan juga dapat mengendalikan Organisme Pengganggu Tanaman yang ada di dalam tanah, karena pengolahan tanah yang baik akan menimbulkan keseimbangan lingkungan. Selain itu tanah dengan kandungan bahan organik tinggi akan membentuk struktur komunitas yang sangat komplek sehingga keragaman biota tanah akan sangat tinggi. Maka dari itu semakin tinggi keragaman biota dalam tanah akan menyebabkan keseimbangan ekosistem baik diatas tanah maupun di dalam tanah itu sendiri. Dan keseimbangan inilah yang akan menyebabkan atau memungkinkan untuk menghindari berkembangnya Organisme Pengganggu Tanaman.
(Anonymous a, 2011)


BAB III METODOLOGI
3.1 Alat dan bahan ( Dari Pengambilan Sampel Tanah hingga Identifikasi Spesimen)
Alat:
  1. Corong Berlese         :  untuk menyaring tanah agar mikroorganisme dapat jatuh ke bawah
  2. Mikroskop binokuler : untuk mengamati serangga yang kecil
  3. Buku Identifikasi      : untuk mengidentifikasi spesimen
  4. Cetok                                    : untuk mengambil sampel tanah
  5. Kantung Plastik Hitam: sebagai wadah sampel tanah
  6. Lampu                       : untuk memberi kondisi yang panas
Bahan:
  1. Sampel Tanah            : yang diperlakukan secara organik dan konvensional
  2. Detergen                   : untuk menjebak serangga
  3. Air                             : untuk melarutkan detergen

3.2  Cara Kerja ( Dari Pengambilan Sampel Tanah hingga Identifikasi Spesimen)
Cara kerja pengambilan sampel tanah
Siapkan alat dan bahan
Ambil sejumlah material tanah( kedalaman 10 cm dari permukaan tanah dengan mengambil juga seresah yang ada di atas permukaan tanah)
Gunakan cetok untuk mengambil material tanah
Masukkan ke dalam kantong plastik hitam


Cara kerja di laboratorium
Siapkan alat dan bahan
Buang tanah pada saringan ( bila ada)
Buat larutan sabun ( seperti pitfall, jangan sampai terlalu berbusa)
Taruh pitfall di bawah corong berlese
Taruh sampel tanah pada saringan
Nyalakan lampu
Biarkan 24 jam
Amati
Cara Kerja Identifikasi Spesimen
Amati


Spesimen Kasat mata(makro)             spesimen tidak kasat mata ( mikro)
Ambil dan tiriskan                              Ambil larutan dan letakkan pada cawan petri
Letakkan pada cawan petri                 Amati dengan mikroskop binokuler
Dokumentasi                                                   Dokumentasi
Identifikasi ( KDS/ internet )                          Identifikasi
3.3  Analisa Perlakuan
Analisa Perlakuan Pengambilan Sampel Tanah
Pada praktikum pengenalan dan pengendalian melalui pengelolaan faktor edafik pada langkah pertama yaitu menyiapkan alat dan bahan untuk pengambilan sampel tanah yang dibutuhkan. Untuk langkah selanjutnya, ambil sejumlah material tanah setelah kedalaman 10 cm di atas permukaan tanah dan seresah. Tujuannya untuk mengetahui pada tanah yang dikelola secara organik dan sejumlah material tanah pada tanah yang dikelola secara konvensional. Kemudian tanah yang sudah diambil dimasukkan ke dalam kantung plastik hitam, dengan tujuan agar spesimen tetap terjaga suhunya atau tidak tembus cahaya.
Analisa Perlakuan Laboratorium
Langkah pertama yang dilakukan di laboratorium yaitu menyiapkan alat dan bahan, kemudian membuang tanah pada saringan selanjutnya membuat larutan sabun sejenis pitfall yang digunakan untuk menjebak serangga. Pitfall tersebut ditaruh di bawah corong berlese agar serangga dapat jatuh, kemudian letakkan sapel tanah pada saringan. Langkah berikutnya nyalakan lampu yang bertujuan untuk memberi kondisi yang panas karena semakin panas kondisinya maka serangga akan semakin jatuh ke bawah. Setelah itu biarkan selama 24 jam dan amati hasilnya.
Analisa Perlakuan Spesimen
Untuk spesimen kasat mata (makro), ambil spesimen tersebut dan tiriskan, dan letakkan pada cawan petri agar mudah untuk di dokumentasi dan di identifikasi dengan menggunakan buku KDS atau Kunci Determinasi Serangga. Sedangkan untuk spesimen tidak kasat mata ( mikro ) yaitu mengambil larutan dan meletakkan pada cawan petri, setelah itu amati dengan mikroskop binokuler agar mudah untuk diidentifikasi dan di dokumentasi hasilnya.






BAB IV HASIL dan PEMBAHASAN
4.1 Hasil Dokumentasi

4.2 Hasil Identifikasi Spesimen yang Ditemukan (Klasifikasi : Kingdom sampai spesies)
Tanah sistem pertanian organik pada tanah makro
  • Cacing Tanah ada 1
Klasifikasi Cacing Tanah
Kerajaan: Animalia
Filum: Annelida
Kelas:Clitellata
Ordo: Haplotaxida
Famili: Acanthodrilidae
(Anonymous b, 2011)
  • Semut  ada 9 yang nampak
Klasifikasi semut
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Pillum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Hymenoptera
Subordo : Apokrita
Superfamil : Vespoidea
Familia : Formicidae
Genus : Formica
Spesies : Formica yessensis
(Anonymous b, 2011)
Spesimen Y
Klasifikasi Spesimen Y
Kerajaan: Animalia
Filum: Arthropoda
Ordo: Diptera
SubOrdo: Nematocera
Infraorder: Bibionomorpha
Superfamili: Scianiodea
Family: Mycetophilidae
(Anonymous b, 2011)
Spesimen X
Klasifikasi Spesimen X
Kingdom: Animalia
Phylum: Arthropoda
Class:Insecta
Ordo:Neuroptera
Subordo: Hemerobiiformia
Seperfamily: Chrysopoidae
Family: Chrysopidae
(Anonymous b, 2011)

Tanah sistem pertanian organik pada tanah mikro tidak ada spesimennya

4.3 Peranan Spesimen yang ditemukan dalam ekosistem
  • Cacing Tanah
Cacing tanah dalam ekosistem berperan sangat penting, terutama dalam bidang pertanian. Cacing tanah dapat menggemburkan tanah dan membolak-balik tanah agar tanah dapat terjaga keseimbangannya dalam lingkungan. Dengan begitu tanaman yang di tanam dengan kondisi banyak terdapat cacing tanah, maka tanaman tersebut akan dapat tumbuh subur karena cacing tanah dapat mengolah unsur hara yang terkandung dalam tanah tersebut.


  • Semut
Peranan semut dalam ekosistem adalah salah satunya adalah sebagai predator ( ditinjau dalam bidang pertanian), sebagi predator ini artinya dia memakan serangga lain sehingga dapat terjadi keseimbangan lingkungan terutama pada tanaman monokultur, di mana ada hama dan ada semut yang berperan juga sebagai predator terhadap adanya hama pada tanaman tersebut.
  • Spesimen X dan Y
Dalam ekosistem peranan spesimen X dan Y belum diketahui secara mendetail, karena kami memperoleh datanya dari kelompok lain, sehingga kami belum mengetahui pasti apa peranan spesimen tersebut bagi ekosistem. Tetapi menurut data dari kelompok lain spesimen X adalah sebagai predator yaitu memangsa binatang lain.

4.4 Pembahasan ( Kaitkan spesimen yang ditemukan dengan kondisi tanah yang di bawah)
Dalam praktikum yang telah dilakukan dalam praktikum, pada tanah mikro dalam pertanian organik, ditemukan spesimen yaitu cacing dan semut. Apabila spesimen tersebut dikaitkan dengan kondisi tanah yang ada di bawah, yaitu yang pertama pada cacing, apabila yang ditemukan pada tanah tersebut hanya terdapat satu cacing tanah, disini dapat disimpulkan bahwa kondisi tanah tidak terlalu subur. Karena cacing tanah sangat berperan penting dalam proses kesuburan tanah.
Selain jumlah cacing tanah yang sedikit, jumlah semut yang banyak yaitu yang ditemukan pada pengamatan ada 9 semut yang nampak, juga menunjukkan bahwa kondisi tanah mungkin sedikit liat berpasir karena semut menyukai pada kondisi tanah yang seperti itu, dan sedangkan cacing tanah hanya dapat hidup pada tanah liat
karena Phnya sesuai dengan kondisi cacing tanah tersebut. Apabila tanahnya memiliki tekstur liat berpasir maka Phnya sudah tidak sesuai dengan cacing tanah, dan itu ditunjukkan dengan jumlah cacing tanah yang sedikit yaitu ada satu dan jumlah semut yang banyak yaitu ada 9 semut yang nampak.





BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Tanah yang baik adalah tanah yang memiliki drainase baik, dapat menyerap hujan, mampu menyimpan air selama musim kering, mempunyai bongkahan tanpa lapisan cadas, tahan terhadap erosi, dapat menunjang kehidupan jasad penghuni tanah, tidak membutuhkan banyak pupuk untuk berproduksi tinggi, subur dan dapat memproduksi hasil tanaman yang tinggi dan sehat.
Tanah memiliki ciri indikator yang sehat yang meliputi sifat fisik, biologi dan kimia. Apabila dari sifat fisika tanah dilihat dari struktur, tekstur tanah, dan lain-lain. Sedangkan sifat biologi, dapat dilihat dari mikroorganisme yang terkandung dalam tanah tersebut, kemudian apabila dilihat dari sifat kimia, yaitu kandungan dari bahan organik tanah yaitu Ca,N,P dan K, dan masih banyak lagi.
Dari hasil praktikum yang dilakukan, didapatkan hasil yaitu pada tanah pertanian organik pada tanah makro terdapat  1 cacing dan 9 semut yang nampak, sedangkan pada tanah mikro tidak ada spesimen yang ditemukan. Cacing mempunyai peranan penting dalam proses kesuburan tanaman, sedangkan semut peranan yang paling penting dalam ekosistem adalah sebagai predator yang menyerang hama.
Dan dapat dibuktikan bahwa dengan ditemukan spesimen yaitu satu cacing tanah dan 9 semut, maka kondisi tanah tidak terlalu subur, karena cacing tanah sangat berperan penting dalam proses kesuburan tanah dan semut lebih menyukai habitat yang kering.

5.2 Saran
Asisten            : Sebenarnya semua sudah baik, mulai dari penjelasan dan interaksi dengan praktikan tetapi akan lebih baik lagi apabila materi yang diberikan dalam cakupan yang sesuai dengan laporan yang diberikan
Praktikum : untuk praktikum faktor edafik ini menurut saya sangat tidak efisien karena kita tidak mengerti apa saja spesimen yang ditemukan karena data harus meminta kepada kelompok lain dan dalam pengambilan sampel tanahpun kita juga tidak mengerti mekanisme yang jelas.


Daftar Pustaka
Anas. 1989. Ilmu Tanah. Bhratara Karya Aksara. Jakarta.
Bailey. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Lampung.
Darmawijaya, M. Isa. 1990. Klasifikasi Tanah. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Kuswandi. 1993. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Lampung.
Notohadiprawiro, T. 1998. Tanah dan Lingkungan. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.
Sarief. 1979. Ilmu Tanah Umum. Bagian Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas
Padjajaran. Bandung.
Soepardi. 1979. Sifat Dan Ciri Tanah. Departemen Ilmu-Ilmu Tanah Fakultas
Pertanian IPB. Bogor.

1 komentar: